Ustaz Somad Tidak Perlu Klarifikasi

Ustaz Somad Tidak Perlu Klarifikasi
©Bangka Pos

Akhirnya Ustaz Abdul Somad angkat bicara. Setelah beberapa waktu video tentangnya cukup menggelisahkan. Bahkan hingga tulisan ini terbit, Ustaz Somad masih menjadi trending topic di berbagai media mainstream.

Ustaz Abdul Somad Batubara, atau yang berjuluk Datuk Seri Ulama Setia Negara, mengklarifikasi konten video dirinya yang dianggap menggelisahkan itu. Berikut ini saya urutkan isi klarifikasinya, yang sebenarnya lama dinanti-nanti publik. Ustaz berdarah Sumatra Utara ini menjelaskan bahwa ada tiga hal poin pokok dalam keterangan video tersebut.

Pertama, Ustaz Abdul Somad menjelaskan bahwa ia hanya menjawab pertanyaan jemaah dari secarik kertas, bukan hendak merusak hubungan sesama.

Kedua, Ustaz Somad berkata bahwa video tersebut direkam di Masjid An-Nur Pekanbaru pada suatu pengajian rutin. Lain itu, ustaz populer ini menambahi keterangan bahwa pengajian tersebut khusus umat Islam saja. Jadi, jelas pada taklim tersebut tiada umat nonmuslim.

Ketiga, video itu sebenarnya sudah lama, 3 tahun lalu. Kenapa baru sekarang heboh? Demikian cengang ustaz lulusan Universitas Al-Azhar ini. Ya, dengan durasi yang relatif lama itu, seharusnya penonton tidak menggubrisnya karena updating kontennya sudah masa tenggang.

Demikianlah isi klarifikasi ustaz Abdul Somad. Sekilas dan diperhatikan memang dapat menjernihkan persoalan yang menimpanya. Tetapi, bagi saya, klarifikasi tersebut sebetulnya tidak perlu ada. Kenapa? Karena sesungguhnya klarifikasi tersebut belum juga menjadi solusi.

Weleh-weleh, jangan salah tangkap dulu. Saya bukannya sentimen pada Ustaz Somad. Saya cuma perlu mengoreksi klarifikasi tersebut. Tetapi saya tidak bisa menghakimi, karena itu bukan ranah saya. Bagi saya, klarifikasi itu membuatku gelisah dan tak tenang. Lah, kalian mau saya mati penasaran?

Terus, apa penjelasan terbaik saya mengenai klarifikasi tersebut? Satu kata, percuma. Ya, percuma klarifikasi itu disampaikan saat umat Kristiani menutup diri pada segala penjelasan UAS. Karena bagi mereka, video pendek sudah menjelaskan nyaris semua yang dibenci oleh mereka.

Namun, masih ada hal lain. Ini semacam kontra-klarifikasi. Sebuah kecacatan fakta yang berusaha menerangkan fakta yang sudah memfakta.

Pertama, soal menjawab pertanyaan. Katanya, UAS hanya menjawab pertanyaan, bukan dibuat-buat untuk merusak hubungan.

Nah, masalahnya, bukan soal UAS menjawab, tetapi isi jawabannya yang bikin pengagung salib kelojokan. Andai saja jawabannya lebih adem, tentu kegaduhan ini bisa dihindari.

Lalu, kalau UAS mengklarifikasi karena menjawab pertanyaan dan tidak membuat perusakan hubungan, apakah itu bisa mengubah fakta? Apakah klarifikasi ini dapat memutar ulang waktu sehingga UAS kembali menjawab dengan jawaban yang renyah dan nyaman?

Kedua, soal tempat masjid. Alasan ini memang masih perlu diklarifikasi ulang. Di masjid, punya arti bahwa pengajian tersebut bukanlah untuk konsumsi umum. Makanya UAS menegaskan acara tersebut hanya untuk umat Islam saja.

Tapi tahu tidak? Pertemuan itu justru direkam untuk diperlihatkan pada publik. Tidak pedulilah di  mana lokasinya. Kalaupun di gereja, di pura, dan sedang mengolok-olok agama lain, tentu menjadi persoalan yang sama.

Kenapa begitu? Karena untuk dewasa ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah memanjakan bener kebutuhan manusia pada eksistensi dan pamer diri. Jadi, setertutup apa pun pertemuannya, pada akhirnya akan mencuat juga ke permukaan. Pun demikin kasus UAS. Meski itu di masjid, walaupun itu khusus kalangan Islam, tetap pada akhirnya akan tampak di ruang umum. Karena faktor-faktor pendukungnya sangat kuat sekali.

Baiklah, saya beri ilustrasi. Ustaz Somad ceramah. Tertutup, sebut saja di masjid. Sementara UAS punya daya magnet yang membuat penyimaknya cinta padanya.

Nah, karena perasaan cinta inilah si penyimak segera mengabadikan momen itu lewat video. Dan dari video tersebut, si penyimak tentu tidak akan menyia-nyiakan keadaan. Karena ia  pengen dirinya sebagai bagian dari momen penting itu, maka ia posting-lah video tersebut.

Ya, kira-kira begitu pola masalahnya. Dan masih ada satu hal lagi. Kalau kita bisa memaklumi itu di masjid dan untuk kelompok Islam, lalu apakah itu berarti ustaz Somad boleh mengatai kepercayaan Kristen begitu?

Ketiga, soal durasi waktu pembuatan videonya. Dikatakan oleh UAS bahwa video tersebut sudah berumur 3 tahun. UAS mengindikasikan dengan waktu yang relatif lama maka dianggap tidak kontekstual serta relevan lagi.

Namun, lagi-lagi ini klarifikasi yang membingungkan. Lantaran faktor waktu dianggap bisa menghilangkan inti persoalan dalam waktu kejadian itu. Artinya, waktu (3 tahun) hanya kata pelengkap dari suatu persoalan.

Pun demikian dalam tata bahasa. Kata waktu disebut kata keterangan yang kedudukannya hanya pelengkap saja. Kiranya tanpa keterangan waktu pun, penulisan kalimat bisa dimengerti dengan baik. Jadi waktu yang lama sekalipun tidak menghentikan jalur pesan dari video tersebut.

Coba bandingkan dengan peristiwa sejarah. Meski dengan waktu lampau, ratusan tahun, ribuan tahun, tetapi kita tidak terhalang memahami peristiwanya, bukan? Kemerdekaan Indonesia terjadi pada 17 Agustus 1945. Sampai sekarang sudah berumur 74 tahun. Lalu kenapa kita masih merayakan padahal sudah 74 tahun yang lalu?

Apa sudah terlihat korelasinya? Jadi bisa disimpulkan bahwa waktu 3 tahun tidak bisa menyembunyikan kejadiannya. Karena momen itu mengendap di memori publik dan waktu cuma sebagai tanda kejadiannya.

Akhirnya masih patut dikatakan bahwa klarifikasi UAS belum berhasil menjernihkan persoalan. Atau bisa jadi ini tambah memperkeruh keadaan; ya bisa jadi begitu. Seharusnya Ustaz Abdul Somad memang tidak perlu klarifikasi.

Baca juga:
    Latest posts by Muhdar Muhrianra (see all)