Via Vallen Melecehkan Kebebasan Individu

Via Vallen Melecehkan Kebebasan Individu
©Brilio

Saya sama sekali tak bisa simpati pada gerakan mendukung Via Vallen. Apa yang ia lakukan, mengunggah SS “pelecehan seksual” atas dirinya di media sosial, justru adalah tindakan pelecehan yang sebenarnya, dan paling fatal.

Apa yang Via Vallen lecehkan? Sesuai judul, yang Via lecehkan adalah kebebasan individu. Ia hantam martabat manusia dengan cara memublikasikan “kebobrokan”-nya. Padahal sifatnya untuk konsumsi pribadi, bukan untuk publik.

I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes. Begitu petikan direct message di gambar yang Via unggah di Instastory-nya. Dengan tambahan: Nggak kenal dan nggak pernah ketemu, tiba2 nge-DM dan ngirim teks gambar kayak gini. As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country right now. I’m not a kind that girl, dude!.

Tak berselang lama setelah itu, muncul kembali unggahan kedua Via. Itu berisi SS percakapannya dengan si pelaku. “U crazy. Why screenshot. U angry?”

“Don’t be afraid, bro,” balas Via Vallen. “I will not telling people who u are. U ask me am I angry? What do you think after I have block your account?”

Kejadian itu pun berbuah perdebatan massal. Tak sedikit yang mendukung pelantun Dangdut Koplo itu lantaran ternilai sebagai upaya perlawanan. Tetapi, ada banyak pula yang mengkritiknya sebagai laku yang kurang pantas—saya salah satunya.

Kita tak bisa menyebut bahwa krtikan untuk Via adalah bukti bahwa banyak di antara kita mewajarkan pelecehan seksual. Pun kita tak bisa menyebut bahwa kita masih asing melihat korban pelecehan berbicara ke publik dan melawan.

Saya kira, apa yang pesepak bola itu lakukan—konon adalah Marko Simic, asal Kroasia yang sekarang merumput di Persija—merupakan hal yang wajar. Itu seperti menawar barang secara individu, yang kebetulan dengan harga miring. Lalu apakah sang penawar barang ini bisa kita salahkan?

Baca juga:

Hak seorang penjual barang adalah menerima atau menolak. Dalam kasus Via Vallen, ia berhak menerima tawaran pesepak bola itu atau menolaknya. Sesederhana itu sebenarnya.

Meski UU memang sudah memberi definisi bahwa pelecehan seksual juga termasuk yang non-fisik, tetapi tak berarti selamanya benar. Justru di sinilah letak persoalannya.

Kita harus kembali mendefinisikan pelecehan seksual ini, kemudian kita kaitkan dengan hate crime. Hate speech, hinaan, makian, bukanlah termasuk hate crime. Semuanya sama dengan ujaran-ujaran biasa lainnya, yang karenanya tidak bisa kita kriminalisasikan.

Ingat kasus Ahok? Bisa jadi ia telah melecehkan Alquran dengan menyebut, misalnya, al-Maidah 51 itu “bohong”, seperti nilai “fiktif” yang Rocky Gerung sematkan pada Alkitab. Tetapi itu sebatas ujaran belaka, tidak menyentuh fisik; bukan hate crime.

Sungguh, kebebasan individu seperti berekspresi harus terjaga betul. Seberapa pun jahatnya ancaman dalam nadanya, ia tidak bisa dikerangkeng hanya karena ada yang merasa tersinggung. Biarkan saja, sebab itu jauh lebih baik.

Karena, jika ujaran kita permasalahkan hanya lantaran ketersinggungan semata, maka bisakah saya, misalnya, melaporkan suara azan di masjid yang bagi saya sangat mengganggu itu?

Baca juga:
Maman Suratman
Latest posts by Maman Suratman (see all)