Victor Mailangkay dan Paradoksnya

Victor Mailangkay dan Paradoksnya
Foto: Chl Media

“Bellum omnium contra omnes.” ~ Thomas Hobbes

Barangkali hidup manusia memang layak dianggap sebagai lelucon. Dia menangis ketika tiba dan ditangisi ketika pergi. Dan di antara keduanya, kita menemukan sebuah perjalanan yang tak jarang membikin terenyuh, seperti dalam drama komedi hitam — saya mengingat Waiting for Godot untuk gagasan itu.

Tetapi Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H. tampaknya menemukan lelucon hidup dalam politik atau, tepatnya, dalam diktum Hobbes yang masyhur ini: perang semua melawan semua. Dan dalam perang itu, dengan caranya sendiri, Victor selalu menjadi komandan yang paling tersamar dari pasukan yang paling samar.

Victor memulai karier politiknya di Partai Golkar dan kini menjadi salah satu politisi Partai NasDem yang paling disegani. Dia jelas tidak melangkah dengan kaki yang pincang, meski tidak pernah mengenakan alas kaki yang ringan. Salah satunya adalah alas kaki intelektualnya sebagai seorang doktor ilmu hukum.

Mantan komandan resimen mahasiswa ini juga pernah menjadi wakil rakyat Sulawesi Utara dalam empat periode. Maka ketika pada Pemilu 2019 kemarin dia kembali terpilih menjadi anggota DPRD Sulut dari Partai NasDem, saya menganggap itu sebagai berkah tersamar bagi langkah partai ke depan.

Adalah berkah yang jelas bagi sebuah partai ketika ada kadernya yang menguasai jabatan eksekutif. Tetapi menempatkan para kader berkelas di lembaga legislatif bisa jauh lebih berharga dari banyak persoalan formal kekuasaan. Di dewan rakyat, politisi sekelas Victor adalah jumlah total dari strategi partai untuk berjaya.

Lalu apa yang menandai Victor dalam penilaian subjektif saya?

Sebagaimana setiap manusia dalam esensi duniawinya, saya mencatat Victor sebagai sebuah paradoks. Kita bisa mulai dari paradoks kekuatan Victor yang juga merupakan kelemahannya. Saya melihat ada dua di antaranya.

Pertama, Victor memiliki kemampuan sebagai politisi yang teruji; tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara eksperiensial.

Namun, dengan kekuatan seperti ini, jelas Victor akan dianggap sebagai ancaman oleh lawan-lawan politik Partai NasDem. Ini membuat lawan akan cenderung menggunakan logika spionase dalam menghadapinya: jika tidak direkrut, maka dia harus ditenggelamkan.

Kedua, berbeda dari para politisi yang dibesarkan oleh pencitraan dan lain-lain pesona di luar kemampuan berpolitik itu sendiri, Victor adalah politisi-intelektual par excellence. Ini membuatnya tak jarang tampak elitis di mata publik dan dianggap konservatif bagi para penggerak perubahan.

Persoalan dari kedua kelemahan ini adalah paradoks lain lagi, yakni paradoks yang termuat dalam persilangannya. Sementara kelemahan pertama menuntutnya untuk berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata, kelemahan yang kedua justru mengharapkan Victor untuk menjadi lebih spontan dan populis.

Meski demikian, saya yakin, tak ada satu pun manusia di utara Sulawesi yang akan meragukan kemampuan Sekretaris DPW Partai NasDem Sulut ini dalam menghadapi semua paradoks itu. Dia tidak datang dari antah-berantah, tetapi dari paradoks demi paradoks politik Indonesia kemarin dan hari ini.

Contohnya, dalam sebuah pertemuan di kantor DPW Sulut, ketika ketegangan menyeruak di antara para caleg usai pengumuman hasil Pemilu 2019, Victor menggunakan adagium Hobbes seperti yang saya kutip di atas. Ia menggunakannya dengan ketepatan makna dan konteks sebagai simpulan pertemuan.

Tetapi apa yang menarik tak luput dari perhatian saya waktu itu. Victor tersenyum di akhir kutipannya dengan tatapan jauh ke depan.

Waktu itu, di dalam ruangan, saya seketika sadar bahwa dia tidak sedang tersenyum pada kami. Senyumannya tertuju pada lelucon hidup yang dia temukan dalam politik yang tengah kami ributkan dengan rasa cemas itu.

Selamat berjuang, Kakak Victor.

Amato Assagaf
Amato Assagaf 3 Articles
Orang Manado. Pernah kuliah di IKJ. Sekarang jadi pengasuh Padepokan Puisi Amato Assagaf. Karya (buku): "Merenungkan Libertarianisme" & "Buku Aktingnya Didi Petet".